Sesuatu akan berarti ketika sesuatu itu sudah tidak ditemui lagi. Perasaan inilah yang saya rasakan ketika sebelas tahun tidak melihat pabrik tua di tanah kelahiran. Kini, perasaan ingin mendekapnya mulai muncul setelah melihat gagahnya pabrik peninggalan Belanda tersebut di internet.
OLEH ABU HAZIMAH AYU FADIA
Rasa ingin tahu saya tentang kondisi pabrik gula Jatibarang, Kabupaten Brebes, sedikit terjawab setelah browsing di internet. Semasa kecil saya hanya bisa melihat pabrik tua tersebut karena tidak diperbolehkan masuk ke dalam area pabrik. Pihak sekolah pun tidak pernah mengadakan kunjungan ke pabrik tersebut, meski mengakui baha pabrik tersebut adalah sejarah.
Rasa kecewa dan kesal sempat menyelinap dalam hati saya kepada guru, karena tidak sekalipun menggelar kunjungan ke pabrik yang memiliki sejarah kuat. Pihak sekolah justru lebih “nafsu” untuk menggiatkan renang sebagai ekstrakurikuler. Yahm mungkin mereka ingin menunjukan kepada kami bahwa meski sekolah di desa tapi bisa renang. Namun demikian, hati saya tetap saja kecewa karena mestinya sebagai guru bisa memberikan pemahaman kepada siswa tentang sejarah. Apalagi ada pelajaran sejarah yang selalu diminta menghafal.
Loh, kok jadi ngerumpi. Maaf, ini curahan hati yang kesal dengan sistem pendidikan sekolah waktu dulu. Sekarang saya memiliki keyakinan pola pembelajarannya berbeda karena dunia berubah. Jika masih tetap sama, alangkah meruginya.
Kembali ke cerita soal pabrik gula Jatibarang.Terus terang saya tidak memiliki rekaman tentang pabrik semasa kecil, meski hampir setiap hari melintasi pabrik tersebut karena hanya berjaran sekira 500 meter dari sekolah saya. Waktu SMP, saya hanya tahu bahwa di sekitar pabrik ada bangunan tua yang besar, di depan rumah tersebut terdapat pepohonan yang rindang. Tempat ini sering dijadikan pusat upacara 17 Agustus tingkat Kecamatan Jatibarang.
Belakangan diketahui jika rumah tersebut adalah semacam rumah dinas bagi pembesar pabrik atau yang dikenal dengan sebutan administrator, selevel dengan Direktur Utama (Dirut). Bangunan tersebut mirip dengan karisdenan Banten yang saat ini menjadi Kantor Gubernur Banten. Selain rumah tua, yang saya ingat tentang pabrik gula yaitu gotrok, sejenis gerbong kereta yang fungsinya untuk menangkut tebu dari perkebunan.
Dulu, semasa masih sekolah dasar saya sering naik gotrok setiap kali pulang sekolah. Lumayan untuk meminimalisir rasa cape karena jarak dari rumah ke sekolah tiga kilometer. Selain gotrok, kenangan lainnya adalah saya dan teman-teman setiap hari masuk ke perkebunan tebu untuk mencari burung sekaligus makan tebunya. Tak jarang saya sering dikejar-kejar penjaga perkebunan karena merusak dan sering mengambil tebu tanpa izin.***
0 Response to "168 Tahun Pabrik Gula Masih Beroperasi [2]"
Posting Komentar